Rabu, 21 Desember 2016
Senin, 19 Desember 2016
Selasa, 13 Desember 2016
Ekspedisi / Tadabbur Alam Dearly Lintau Buo Utara
Mushallah Jami'atul Yaqin Jorong Kubang Tungkek Kawai Nagari Batu Bulat
Kec. Lintau Buo Utara
Hamparan Persawahan dan dari kejauhan terlihat hamparan deretan bukit yang bernama dengan Bukit Barisan di Tanjung Bonai Lintau Buo Utara
Hamparan Persawahan di Tanjung Bonai Lintau Buo Utara
Sawah Berjenjang di Kaki Gunung Sago di Tanjung Bonai Lintau Buo Utara
Rumah Gadang Ibuk Musfida Jusuf Kallah yang terletak di Nagari Tanjung Bonai Kec.Lintau Buo Utara
Jumat, 09 Desember 2016
Rabu, 07 Desember 2016
Kamis, 01 Desember 2016
Inilah Pasukan Islam yang Mampu Berjalan di Atas Air
Islam tidak akan jaya kecuali dengan
meneladani dakwah Nabi, para sahabat, dan penerusnya yang terdahulu
dalam iman. Merekalah sebaik-baik teladan. Siapa mengikutinya, baginya
kejayaan dan keselamatan di dunia hingga akhirat. Dan siapa pun yang
menyelisihinya, baginya kegagalan dan kehinaan di dunia sampai akhirat.
Di antara para generasi pendahulu yang
amat menakjubkan adalah kumpulan pasukan yang terdiri dari 30.000 kaum
Muslimin. Mereka berhasil berjalan di atas sungai, tanpa perahu, dan
tanpa satu pun orang yang terseret arusnya, kecuali hanya satu wadah
minuman yang hanyut.
Inilah pasukan yang dipimpin oleh Sa’ad
bin Abi Waqqash. Mereka menyeberangi sungai Tigris di Irak yang kala itu
banjir sehingga deras arusnya. Mereka hendak menundukkan peradaban
Persia setelah ajakan dakwah yang santun tidak diterima.
Di dalam Tarbiyah Jihadiyah,
Syeikh Abdullah Azzam menyebutkan peristiwa penyeberangan sungai Tigris
tanpa perahu ini dengan berkata, “Ini adalah kisah yang paling aneh
dalam sejarah.”
Semua pasukan selamat. Hanya satu wadah
air yang hanyut. Namun berhasil ditemukan setelah seluruh pasukan
mencarinya. Saat mengetahui peritiwa ‘ngubek’ sungai hanya untuk mencari
satu wadah air itu, panglima Persia berkata, “Alangkah menakjubkannya.
Bagaimana lagi jika yang hilang adalah satu nyawa pasukan mereka?!”
Pasukan Persia pun berlarian lantaran takut yang menyergap. Sembari berlarian, mereka berteriak, “Dewana amadan. Dewana amadan.” Kalimat ketakutan ini bermakna, “Orang gila telah datang. Orang gila telah datang.”
Inilah pasukan Islam yang belum ada
tandingannya hingga kini. Mereka adalah sekelompok manusia yang tidak
hanya menguasai berbagai jenis kemajuan di zamannya, melainkan juga
sosok-sosok sederhana yang memiliki keimanan baja dan taqwa yang amat
memesona.
Mereka berhasil menjadikan Allah Ta’ala
sebagai satu-satunya sesembahan yang tiada satu pun sekutu bagi-Nya.
Merekalah sekelompok pasukan yang tidak gentar atau menyerah di hadapan
musuh, sebab meneladani keberanian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa
Sallam dalam seluruh aspeknya.
Dan, hanya dengan meneladani merekalah,
kita akan bangkit dan menguasai peradaban dunia. Ingat, teladani dalam
iman dan taqwanya. Iman dan taqwa itulah yang akan menggerakkan seorang
individu untuk berjuang dengan pengorbanan terbaik bagi agamanya. Tanpa
iman, keberanian adalah kepengecutan.Perang Mohacs, Medan Pembantaian Tentara Gabungan Kristen Eropa
Tahun 1526 adalah tahun kelam bagi kerajaan-kerajaan besar Eropa. Betapa tidak, satu kali pukulan, kerajaan
adidaya pada waktu itu Kesultanan Utsmaniah atau lebih dikenal Imperium Ottoman
membabat habis gabungan pasukan yang terdiri dari kerajaan Hongaria/kroasia,
Romawi, Kerajaan Bohemia (Republik Ceko saat ini), Kerajaan Polandia,dan Tahta
suci Vatikan di medan Perang bernama Mohacs (wilayah selatan Hungaria).
Berikut Kronologinya
Dipicu karena terbunuhnya utusan Sultan Sulaiman (Suleiman The
Magnificient) oleh Raja Hungaria King Luis II atas hasutan Vatikan. Sang raja
membunuh utusan sultan yang akan mengambil pajak (cukai) dari raja Luis II.
Mengetahui utusannya dibunuh oleh sang raja. Kemarahan Sultan tak
terbendung, segenap pasukannya dikumpulkan untuk memerangi bukan hanya kepada
Kerajaan Hungaria tapi seluruh Eropa.
Sultan Sulaiman segera mengumumkan kampanye perang di negerinya,
mengumpulkan 100.000 pasukan yang dilengkapi 350 meriam dan 800 kapal perang,
tak ketinggalan pasukan elit Janissary di garis depan. Sementara itu Pasukan
Eropa bersiap-siap, tak kurang dari 200.000 kavaleri (pasukan berkuda) bersenjata lengkap dan berperisai baju besi.
Pasukan Ottoman menempuh
1000 km, sepanjang perjalanan banyak benteng dan kota- kota ditaklukkan, tujuannya
untuk mengamankan rute mundur jika pasukannya mengalami kekalahan. Sampailah
pasukan itu di lembah yang bernama Mohacs menunggu gelombang pasukan gabungan
Eropa.
Menyadari jumlah pasukan Eropa jauh lebih banyak, masalah lain yang
dihadapi sultan Sulaiman adalah banyaknya pasukan berkuda Romawi dan Hongaria
yg tertutup penuh oleh baju besi yang sulit ditembus panah atau peluru, beliau
pun menyusun taktik jitu yang kelak akan mengubah jalannya perang. Ia membagi pasukannya
menjadi tiga barisan sepanjang 10 km. Pasukan elit Janissari yang berada di
garis depan, mereka ini adalah prajurit pilihan. Kemudian di barisan kedua pasukan
berkuda dengan senjata ringan dan pasukan invanteri (pejalan kaki) diantara
mereka adalah relawan. Adapun barisan ketiga adalah beliau dan pasukan meriam.
Perang pun berkobar, dentuman-dentuman meriam menggelegar di
langit lembah mohacs, ribuan panah meluncur dari busurnya, senapan-senapan
silih berganti merontokkan kedua pasukan yang berhadap-hadapan, pekikan kuda
membuat makin ngeri keadaan saat itu. Sesuai arahan Sultan Sulaiman, Pasukan
Janissari yang ada di garis depan bertahan 1 jam saja, setelah itu harus mundur
untuk membuka jalan pasukan kedua. Selama 1 jam pertempuran, pasukan Janissari mampu bertahan,
bahkan mampu membunuh 20.000 pasukan Eropa. Pasukan Eropa lalu mengerahkan
pasukan utama mereka, melihat pergerakan ini, pasukan Janissari pun mundur ke
samping kanan dan kiri sehingga unit tengah pasukan Uttoman terbuka lebar.
Melihat hal ini, pasukan Eropa sudah mulai masuk jebakan, mereka menusuk sampai
jantung pasukan Ottoman. Merasa sudah unggul, mereka mengejar pasukan kedua Ottoman
sampai tidak menyadari formasi perang yang telah menunggu mereka.
Pasukan Pasukan ketiga Ottoman yang telah siap dengan
moncong-moncong meriamnya, dan....letusan pertama meriam itu menyadarkan
pasukan Eropa akan situasinya, tapi sudah terlambat, pasukan kedua ottoman
berbalik mengurungnya. Dentuman-dentuman meriam selanjutnya adalah awal
pembantaian pasukan itu. Kuda-kuda perang yang tadinya gagah perkasa dengan
lapisan baja pelindung yang sulit ditembus oleh pedang atau peluru-peluru
senapan menjadi tidak berarti di hadapan moncong-moncong meriam Ottoman yang tanpa
henti menembak ke arah mereka. Sisa-sisa pasukan Eropa kocar kacir, mereka berusaha
mundur, tetapi dibelakang mereka hanya ada sungai sehingga banyak juga diantara
mereka yang mati karena berdesak-desakan
dan tenggelam.
Pasukan
Eropa ingin menyerah, tetapi entah karena alasan apa.
Sultan Sulaiman menolak penyerahan diri mereka, Sultan tidak mau ada
tawanan.
Maka pasukan Ottoman menyerahkan kembali senjata kepada mereka untuk
berperang atau
dibunuh, perang ini berakhir dengan terbunuhnya raja Hungaria, Luis II.
Menandakan akhir masa kerajaan Hungaria. Kekalahan ini menggetarkan
seluruh pelosok Eropa, dan merupakan awal dari perang-perang penaklukan
Kekaisaran Ottoman di wilayah
Eropa selanjutnya.
Setelah Kita Dimasukkan ke Liang Kubur…
Penulis: Ummu Salamah Farosyah dan Ummu Rumman
Adakah dari kita yang tidak mengetahui bahwa suatu ketika akan datang kematian pada kita. Allah Ta’ala telah berfirman, yang artinya, “Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian. Dan kami benar-benar akan menguji kalian dengan kejelekan dan kebaikan, dan kepada kamilah kalian akan dikembalikan.” (QS. Al Anbiyaa’: 35). Ya, setiap dari kita insya Allah telah menyadari dan menyakini hal ini. Tetapi kebanyakan orang telah lalai atau bahkan sengaja melalaikan diri mereka sendiri. Satu persatu orang yang kita kasihi telah pergi (meninggal-ed) tapi seakan-akan kematian mereka tidak meninggal faidah bagi kita, kecuali rasa sedih akibat kehilangan mereka.
Saudariku, kematian adalah benar adanya. Begitu pula dengan kehidupan setelah kematian. Kehidupan akhirat, inilah yang seharusnya kita tuju. Kampung akhiratlah tempat kembali kita. Maka persiapkanlah bekal untuk menempuh jauhnya perjalanan. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan hanya permainan dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS. Al An’am: 32)
Ketahuilah wahai hamba Allah! Bahwa kuburan adalah persinggahan pertama menuju akhirat. Orang yang mati, berarti telah mengalami kiamat kecil. Apabila seorang hamba telah dikubur, akan diperlihatkan kepadanya tempat tinggalnya nanti pada pagi hari, yakni antara waktu fajar dan terbit matahari, serta waktu sore, yakni antara waktu dzhuhur hingga maghrib. Apabila ia termasuk penghuni Jannah, akan diperlihatkan tempat tinggalnya di Jannah, dan apabila ia termasuk penghuni Naar, akan diperlihatkan tempat tinggalnya di Naar.
Fitnah Kubur
Fitnah secara bahasa berarti ujian (ikhtibaar), sedangkan secara istilah fitnah kubur adalah pertanyaan yang ditujukan kepada mayit tentang Rabbnya, agamanya dan Nabinya. Hal ini benar berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah. (Lihat Syarah Lum’atul I’tiqod hal 67, syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin)
Diriwayat oleh Bukhari dan Muslim dari hadits Al Barra’ bin ‘Azib bahwasanya ketika seorang mayit telah selesai dikuburkan dan dihadapkan pada alam akhirat, maka akan datang padanya dua malaikat (yaitu malaikat Munkar dan Nakir) yang akan bertanya kepada sang mayit tiga pertanyaan.
Pertanyaan pertama, “Man Robbuka?” … Siapakah Robbmu?
Kedua, “Wa maa diinuka?” … dan apakah agamamu?
Ketiga, “Wa maa hadzaar rujululladzii bu’itsa fiikum?” … dan siapakah orang yang telah diutus di antara kalian ini?
Tiga pertanyaan inilah yang disebut dengan fitnah kubur. Oleh karena itu, tiga pertanyaan pokok ini merupakan masalah besar yang penting dan mendesak untuk diketahui. Wajib bagi setiap manusia untuk mengetahui, meyakini dan mengamalkan hal ini, baik secara lahir maupun bathin. Tidak seorang pun dapat beralasan untuk tidak mengetahui tiga hal tersebut dan tidak mempelajarinya. Bahkan ketiga hal ini harus dipelajari sebelum hal lain. Perhatikanlah hal ini wahai saudariku!
Tiga pertanyaan ini juga awal dari nikmat dan siksaan di alam kubur. Orang-orang yang bisa menjawab adalah orang-orang yang paham, yakin dan mengamalkannya selama hidup sampai akhir hayat dan meninggal dalam keimanan. Seorang mukmin yang bisa menjawab ketiga pertanyaan, maka dia akan memperoleh nikmat kubur. Adapun orang kafir yang tidak bisa menjawabnya, maka dia akan dihadapkan kepada adzab kubur.
Saudariku, Allah Ta’ala telah berfirman dalam Al Qur’an surah Ibrahim 27, yang artinya, “Allah Meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, dan Allah akan Menyesatkan orang-orang yang dzalim dan Memperbuat apa yang Dia kehendaki.”
Menurut Ibnu Katsir yang dimaksud dengan “ucapan yang teguh” adalah seorang mukmin akan teguh di atas keimanan dan terjaga dari syubhat dan ia akan terjaga di atas keimanan. Sedangkan di akhirat, ia akan meninggal dalam keadaan husnul khatimah (dalam keadaan beriman) dan bisa menjawab tiga pertanyaan.
Kita memohon kepada Allah semoga Dia meneguhkan iman kita ketika masih hidup dan ketika akan meninggal dunia. Meneguhkan kita ketika menjawab ketiga pertanyaan serta ketika dibangkitkan kelak di akhirat. Keteguhan iman di dunia dan akhirat, inilah hakikat kebahagiaan yang sesungguhnya.
Bentuk-Bentuk Siksa Kubur
Saudariku, telah disebutkan bahwa seorang yang kafir akan disiksa karena tidak bisa menjawab ketiga pertanyaan. Akan tetapi, bukan berarti seorang mukmin pasti akan terlepas dari adzab kubur. Seorang mukmin bisa saja diadzab disebabkan maksiat yang dilakukannya, kecuali bila Allah mengampuninya.
Syaikh Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad Ath Thahawi berkata dalam kitabnya Aqidah Ath-Thahawiyah, “Kita mengimani adanya adzab kubur bagi orang yang berhak mendapatkannya, kita mengimani juga pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir kepadanya di dalam kubur tentang Rabbnya, agamanya, dan Nabinya berdasar kabar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam serta para sahabat ridhwanallahu ‘alaihim ajma’in. Alam kubur adalah taman-taman jannah atau kubangan Naar.”
Di antara bentuk-bentuk adzab kubur dan kriteria orang yang mengalaminya:
Ketahuilah, bahwa siksa kubur adalah siksa di alam Barzakh. Barangsiapa yang mati, dan berhak mendapatkan adzab, ia akan menerima bagiannya. Baik ia dikubur maupun tidak. Meski dimangsa binatang buas, atau terbakar hangus hingga menjadi abu dan bertaburan dibawa angin; atau disalib dan tenggelam di dasar laut. Ruh dan jasadnya tetap akan mendapat siksa, sama seperti orang yang dikubur. (lihat Tahdzib Syarh Ath Thahawiyah, Syaikh Abdul Akhir Hammad al Ghunaimi)
Apakah Adzab Kubur terjadi terus-menerus atau kemudian berhenti ?
Maka jawaban untuk pertanyaan ini ada dua macam:
Pertama, untuk orang kafir yang tidak bisa menjawab ketiga pertanyaan, maka adzab berlangsung terus-menerus. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, yang artinya, “Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat (Dikatakan pada malaikat): Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras.” (QS. Ghafir: 46)
Demikian juga dalam hadits Al Barra’ bin ‘Azib tentang kisah orang kafir, “Kemudian dibukakan baginya pintu Naar sehingga ia dapat melihat tempat tinggalnya di sana hingga hari kiamat.” (HR. Imam Ahmad)
Kedua, untuk para pelaku maksiat yang ringan kemaksiatannya, maka adzab hanya berlangsung beberapa waktu kemudian berhenti. Mereka disiksa sebatas dosanya, kemudian diberi keringanan. (lihat Tahdzib Syarh Ath Thahawiyah, Syaikh Abdul Akhir Hammad al Ghunaimi)
Saudariku, semoga Allah Melindungi kita dari adzab kubur dan memudahkan perjalanan setelahnya. Seringan apapun adzab kubur, tidak ada satupun dari kita yang sanggup menahan penderitaannya. Begitu banyak dosa telah kita kerjakan… maka jangan siakan waktu lagi untuk bertaubat. Janganlah lagi menunda berbuat kebaikan. Amal perbuatan kita, kita sendirilah yang akan mempertanggungjawabkannya dan mendapatkan balasannya. Jika bukan kita sendiri yang beramal shalih demi keselamatan dunia dan akhirat kita, maka siapa lagi ???
Sungguh indah nasihat Yazid Ar Riqasyi rahimahullah yang dikatakannya pada dirinya sendiri, “Celaka engkau wahai Yazid! Siapa yang akan mendirikan shalat untukmu setelah engkau mati? Siapa yang akan berpuasa untukmu setelah engkau mati? Siapa yang akan memintakan maaf untukmu setelah engkau mati?” Lalu ia berkata, “Wahai manusia, mengapa kalian tidak menangis dan meratapi dirimu selama sisa hidupmu. Barangsiapa yang akhirnya adalah mati, kuburannya sebagai rumah tinggalnya, tanah sebagai kasurnya dan ulat-ulat yang menemaninya, serta dalam keadaan demikian ia menunggu hari kiamat yang mengerikan. Wahai, bagaimanakah keadaan seperti ini?” Lalu beliau menangis. Wallahu Ta’ala a’lam.
Maraji’:
Artikel www.muslimah.or.id
Adakah dari kita yang tidak mengetahui bahwa suatu ketika akan datang kematian pada kita. Allah Ta’ala telah berfirman, yang artinya, “Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian. Dan kami benar-benar akan menguji kalian dengan kejelekan dan kebaikan, dan kepada kamilah kalian akan dikembalikan.” (QS. Al Anbiyaa’: 35). Ya, setiap dari kita insya Allah telah menyadari dan menyakini hal ini. Tetapi kebanyakan orang telah lalai atau bahkan sengaja melalaikan diri mereka sendiri. Satu persatu orang yang kita kasihi telah pergi (meninggal-ed) tapi seakan-akan kematian mereka tidak meninggal faidah bagi kita, kecuali rasa sedih akibat kehilangan mereka.
Saudariku, kematian adalah benar adanya. Begitu pula dengan kehidupan setelah kematian. Kehidupan akhirat, inilah yang seharusnya kita tuju. Kampung akhiratlah tempat kembali kita. Maka persiapkanlah bekal untuk menempuh jauhnya perjalanan. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan hanya permainan dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS. Al An’am: 32)
Ketahuilah wahai hamba Allah! Bahwa kuburan adalah persinggahan pertama menuju akhirat. Orang yang mati, berarti telah mengalami kiamat kecil. Apabila seorang hamba telah dikubur, akan diperlihatkan kepadanya tempat tinggalnya nanti pada pagi hari, yakni antara waktu fajar dan terbit matahari, serta waktu sore, yakni antara waktu dzhuhur hingga maghrib. Apabila ia termasuk penghuni Jannah, akan diperlihatkan tempat tinggalnya di Jannah, dan apabila ia termasuk penghuni Naar, akan diperlihatkan tempat tinggalnya di Naar.
Fitnah Kubur
Fitnah secara bahasa berarti ujian (ikhtibaar), sedangkan secara istilah fitnah kubur adalah pertanyaan yang ditujukan kepada mayit tentang Rabbnya, agamanya dan Nabinya. Hal ini benar berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah. (Lihat Syarah Lum’atul I’tiqod hal 67, syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin)
Diriwayat oleh Bukhari dan Muslim dari hadits Al Barra’ bin ‘Azib bahwasanya ketika seorang mayit telah selesai dikuburkan dan dihadapkan pada alam akhirat, maka akan datang padanya dua malaikat (yaitu malaikat Munkar dan Nakir) yang akan bertanya kepada sang mayit tiga pertanyaan.
Pertanyaan pertama, “Man Robbuka?” … Siapakah Robbmu?
Kedua, “Wa maa diinuka?” … dan apakah agamamu?
Ketiga, “Wa maa hadzaar rujululladzii bu’itsa fiikum?” … dan siapakah orang yang telah diutus di antara kalian ini?
Tiga pertanyaan inilah yang disebut dengan fitnah kubur. Oleh karena itu, tiga pertanyaan pokok ini merupakan masalah besar yang penting dan mendesak untuk diketahui. Wajib bagi setiap manusia untuk mengetahui, meyakini dan mengamalkan hal ini, baik secara lahir maupun bathin. Tidak seorang pun dapat beralasan untuk tidak mengetahui tiga hal tersebut dan tidak mempelajarinya. Bahkan ketiga hal ini harus dipelajari sebelum hal lain. Perhatikanlah hal ini wahai saudariku!
Tiga pertanyaan ini juga awal dari nikmat dan siksaan di alam kubur. Orang-orang yang bisa menjawab adalah orang-orang yang paham, yakin dan mengamalkannya selama hidup sampai akhir hayat dan meninggal dalam keimanan. Seorang mukmin yang bisa menjawab ketiga pertanyaan, maka dia akan memperoleh nikmat kubur. Adapun orang kafir yang tidak bisa menjawabnya, maka dia akan dihadapkan kepada adzab kubur.
Saudariku, Allah Ta’ala telah berfirman dalam Al Qur’an surah Ibrahim 27, yang artinya, “Allah Meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, dan Allah akan Menyesatkan orang-orang yang dzalim dan Memperbuat apa yang Dia kehendaki.”
Menurut Ibnu Katsir yang dimaksud dengan “ucapan yang teguh” adalah seorang mukmin akan teguh di atas keimanan dan terjaga dari syubhat dan ia akan terjaga di atas keimanan. Sedangkan di akhirat, ia akan meninggal dalam keadaan husnul khatimah (dalam keadaan beriman) dan bisa menjawab tiga pertanyaan.
Kita memohon kepada Allah semoga Dia meneguhkan iman kita ketika masih hidup dan ketika akan meninggal dunia. Meneguhkan kita ketika menjawab ketiga pertanyaan serta ketika dibangkitkan kelak di akhirat. Keteguhan iman di dunia dan akhirat, inilah hakikat kebahagiaan yang sesungguhnya.
Bentuk-Bentuk Siksa Kubur
Saudariku, telah disebutkan bahwa seorang yang kafir akan disiksa karena tidak bisa menjawab ketiga pertanyaan. Akan tetapi, bukan berarti seorang mukmin pasti akan terlepas dari adzab kubur. Seorang mukmin bisa saja diadzab disebabkan maksiat yang dilakukannya, kecuali bila Allah mengampuninya.
Syaikh Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad Ath Thahawi berkata dalam kitabnya Aqidah Ath-Thahawiyah, “Kita mengimani adanya adzab kubur bagi orang yang berhak mendapatkannya, kita mengimani juga pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir kepadanya di dalam kubur tentang Rabbnya, agamanya, dan Nabinya berdasar kabar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam serta para sahabat ridhwanallahu ‘alaihim ajma’in. Alam kubur adalah taman-taman jannah atau kubangan Naar.”
Di antara bentuk-bentuk adzab kubur dan kriteria orang yang mengalaminya:
- Dipecahkan kepalanya dengan batu, kemudian Allah tumbuhkan lagi kepalanya, dipecahkan lagi demikian seterusnya. Ini adalah siksa bagi orang yang mempelajari Al-Qur’an lalu tidak mengamalkannya dan juga siksa bagi orang yang meninggalkan sholat wajib.
- Dibelah ujung mulut hingga ke belakang kepala, demikian juga hidung dan kedua matanya. Merupakan siksa bagi orang yang pergi dari rumahnya di pagi hari lalu berdusta dan kedustaannya itu mencapai ufuk.
- Ada kaum lelaki dan perempuan telanjang berada dalam bangunan menyerupai tungku. Tiba-tiba datanglah api dari bawah mereka. Mereka adalah para pezina lelaki dan perempuan.
- Dijejali batu, ketika sedang berenang, mandi di sungai. Ini merupakan siksa bagi orang yang memakan riba.
- Kaum yang separuh jasadnya bagus dan separuhnya lagi jelek adalah kaum yang mencampurkan antara amal shalih dengan perbuatan jelek, namun Allah mengampuni perbuatan jelek mereka.
- Kaum yang memiliki kuku dari tembaga, yang mereka gunakan untuk mencakari wajah dan dada mereka. Mereka adalah orang-orang yang suka memakan daging orang lain (menggunjing) yakni membicarakan aib mereka.
- Dengan dalil Al Qur’an dan Sunnah dan ‘ijma salaf yang menunjukkan tentang adzab kubur.
- Sesungguhnya keadaan akhirat tidak bisa disamakan dengan keadaan dunia, maka adzab atau nikmat kubur tidaklah sama dengan apa yang bisa ditangkap dengan indra di dunia. (Diringkas dari Syarah Lum’atul I’tiqod, hal 65-66)
Ketahuilah, bahwa siksa kubur adalah siksa di alam Barzakh. Barangsiapa yang mati, dan berhak mendapatkan adzab, ia akan menerima bagiannya. Baik ia dikubur maupun tidak. Meski dimangsa binatang buas, atau terbakar hangus hingga menjadi abu dan bertaburan dibawa angin; atau disalib dan tenggelam di dasar laut. Ruh dan jasadnya tetap akan mendapat siksa, sama seperti orang yang dikubur. (lihat Tahdzib Syarh Ath Thahawiyah, Syaikh Abdul Akhir Hammad al Ghunaimi)
Apakah Adzab Kubur terjadi terus-menerus atau kemudian berhenti ?
Maka jawaban untuk pertanyaan ini ada dua macam:
Pertama, untuk orang kafir yang tidak bisa menjawab ketiga pertanyaan, maka adzab berlangsung terus-menerus. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, yang artinya, “Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat (Dikatakan pada malaikat): Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras.” (QS. Ghafir: 46)
Demikian juga dalam hadits Al Barra’ bin ‘Azib tentang kisah orang kafir, “Kemudian dibukakan baginya pintu Naar sehingga ia dapat melihat tempat tinggalnya di sana hingga hari kiamat.” (HR. Imam Ahmad)
Kedua, untuk para pelaku maksiat yang ringan kemaksiatannya, maka adzab hanya berlangsung beberapa waktu kemudian berhenti. Mereka disiksa sebatas dosanya, kemudian diberi keringanan. (lihat Tahdzib Syarh Ath Thahawiyah, Syaikh Abdul Akhir Hammad al Ghunaimi)
Saudariku, semoga Allah Melindungi kita dari adzab kubur dan memudahkan perjalanan setelahnya. Seringan apapun adzab kubur, tidak ada satupun dari kita yang sanggup menahan penderitaannya. Begitu banyak dosa telah kita kerjakan… maka jangan siakan waktu lagi untuk bertaubat. Janganlah lagi menunda berbuat kebaikan. Amal perbuatan kita, kita sendirilah yang akan mempertanggungjawabkannya dan mendapatkan balasannya. Jika bukan kita sendiri yang beramal shalih demi keselamatan dunia dan akhirat kita, maka siapa lagi ???
Sungguh indah nasihat Yazid Ar Riqasyi rahimahullah yang dikatakannya pada dirinya sendiri, “Celaka engkau wahai Yazid! Siapa yang akan mendirikan shalat untukmu setelah engkau mati? Siapa yang akan berpuasa untukmu setelah engkau mati? Siapa yang akan memintakan maaf untukmu setelah engkau mati?” Lalu ia berkata, “Wahai manusia, mengapa kalian tidak menangis dan meratapi dirimu selama sisa hidupmu. Barangsiapa yang akhirnya adalah mati, kuburannya sebagai rumah tinggalnya, tanah sebagai kasurnya dan ulat-ulat yang menemaninya, serta dalam keadaan demikian ia menunggu hari kiamat yang mengerikan. Wahai, bagaimanakah keadaan seperti ini?” Lalu beliau menangis. Wallahu Ta’ala a’lam.
Maraji’:
- Aqidah Ath-Thahawiyah, Syaikh Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad Ath Thahawi (diambil dari Mutuunut Tauhidi wal ‘Aqiidati)
- Syarah Al Waajibaat al Mutahattimaat al Ma’rifah ‘alaa kulli Muslim wa Muslimah (edisi terjemah), Syaikh Ibrahim bin asy-Syaikh Shalih bin Ahmad al Khuraishi, Pustaka Imam Syafi’i
- Syarah Lum’atul I’tiqod, Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin
- Tahdzib Syarh Ath Thahawiyah (jilid 2. edisi Terjemah), Syaikh Abdul Akhir Hammad al Ghunaimi, Penerbit At Tibyan
Artikel www.muslimah.or.id
Langganan:
Komentar
(
Atom
)




