Selasa, 13 Desember 2016

Ekspedisi / Tadabbur Alam Dearly Lintau Buo Utara


Mushallah Jami'atul Yaqin  Jorong Kubang Tungkek Kawai Nagari Batu Bulat 
Kec. Lintau Buo Utara 


Hamparan Persawahan dan dari kejauhan terlihat hamparan deretan bukit yang bernama dengan Bukit Barisan di Tanjung Bonai Lintau Buo Utara 

Hamparan Persawahan di Tanjung Bonai Lintau Buo Utara 

Sawah Berjenjang di Kaki Gunung Sago di Tanjung Bonai Lintau Buo Utara
Rumah Gadang Ibuk Musfida Jusuf Kallah yang terletak di Nagari Tanjung Bonai Kec.Lintau Buo Utara

Kisah Kakak Adik Ini Selalu Membuat Ustadz Menangis - Ustadz Khalid Basa...

Ulama Ulama Ini Menangis Tidakkah Hati Kita Ikut Tersentuh

Kamis, 01 Desember 2016

Inilah Pasukan Islam yang Mampu Berjalan di Atas Air

sumber gambar: unikversiti.blogspot.com
Islam tidak akan jaya kecuali dengan meneladani dakwah Nabi, para sahabat, dan penerusnya yang terdahulu dalam iman. Merekalah sebaik-baik teladan. Siapa mengikutinya, baginya kejayaan dan keselamatan di dunia hingga akhirat. Dan siapa pun yang menyelisihinya, baginya kegagalan dan kehinaan di dunia sampai akhirat.
Di antara para generasi pendahulu yang amat menakjubkan adalah kumpulan pasukan yang terdiri dari 30.000 kaum Muslimin. Mereka berhasil berjalan di atas sungai, tanpa perahu, dan tanpa satu pun orang yang terseret arusnya, kecuali hanya satu wadah minuman yang hanyut.
Inilah pasukan yang dipimpin oleh Sa’ad bin Abi Waqqash. Mereka menyeberangi sungai Tigris di Irak yang kala itu banjir sehingga deras arusnya. Mereka hendak menundukkan peradaban Persia setelah ajakan dakwah yang santun tidak diterima.
Di dalam Tarbiyah Jihadiyah, Syeikh Abdullah Azzam menyebutkan peristiwa penyeberangan sungai Tigris tanpa perahu ini dengan berkata, “Ini adalah kisah yang paling aneh dalam sejarah.”
Semua pasukan selamat. Hanya satu wadah air yang hanyut. Namun berhasil ditemukan setelah seluruh pasukan mencarinya. Saat mengetahui peritiwa ‘ngubek’ sungai hanya untuk mencari satu wadah air itu, panglima Persia berkata, “Alangkah menakjubkannya. Bagaimana lagi jika yang hilang adalah satu nyawa pasukan mereka?!”
Pasukan Persia pun berlarian lantaran takut yang menyergap. Sembari berlarian, mereka berteriak, “Dewana amadan. Dewana amadan.” Kalimat ketakutan ini bermakna, “Orang gila telah datang. Orang gila telah datang.”
Inilah pasukan Islam yang belum ada tandingannya hingga kini. Mereka adalah sekelompok manusia yang tidak hanya menguasai berbagai jenis kemajuan di zamannya, melainkan juga sosok-sosok sederhana yang memiliki keimanan baja dan taqwa yang amat memesona.
Mereka berhasil menjadikan Allah Ta’ala sebagai satu-satunya sesembahan yang tiada satu pun sekutu bagi-Nya. Merekalah sekelompok pasukan yang tidak gentar atau menyerah di hadapan musuh, sebab meneladani keberanian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam seluruh aspeknya.
Dan, hanya dengan meneladani merekalah, kita akan bangkit dan menguasai peradaban dunia. Ingat, teladani dalam iman dan taqwanya. Iman dan taqwa itulah yang akan menggerakkan seorang individu untuk berjuang dengan pengorbanan terbaik bagi agamanya. Tanpa iman, keberanian adalah kepengecutan.

Perang Mohacs, Medan Pembantaian Tentara Gabungan Kristen Eropa

Tahun 1526 adalah tahun kelam bagi kerajaan-kerajaan besar Eropa. Betapa tidak, satu kali pukulan, kerajaan adidaya pada waktu itu Kesultanan Utsmaniah atau lebih dikenal Imperium Ottoman membabat habis gabungan pasukan yang terdiri dari kerajaan Hongaria/kroasia, Romawi, Kerajaan Bohemia (Republik Ceko saat ini), Kerajaan Polandia,dan Tahta suci Vatikan di medan Perang bernama Mohacs (wilayah selatan Hungaria).

Berikut Kronologinya
Dipicu karena terbunuhnya utusan Sultan Sulaiman (Suleiman The Magnificient) oleh Raja Hungaria King Luis II atas hasutan Vatikan. Sang raja membunuh utusan sultan yang akan mengambil pajak (cukai) dari raja Luis II. Mengetahui utusannya dibunuh oleh sang raja. Kemarahan Sultan tak terbendung, segenap pasukannya dikumpulkan untuk memerangi bukan hanya kepada Kerajaan Hungaria tapi seluruh Eropa.
Sultan Sulaiman segera mengumumkan kampanye perang di negerinya, mengumpulkan 100.000 pasukan yang dilengkapi 350 meriam dan 800 kapal perang, tak ketinggalan pasukan elit Janissary di garis depan. Sementara itu Pasukan Eropa bersiap-siap, tak kurang dari 200.000 kavaleri (pasukan berkuda) bersenjata lengkap dan berperisai baju besi.
Pasukan Ottoman menempuh 1000 km, sepanjang perjalanan banyak benteng dan kota- kota ditaklukkan, tujuannya untuk mengamankan rute mundur jika pasukannya mengalami kekalahan. Sampailah pasukan itu di lembah yang bernama Mohacs menunggu gelombang pasukan gabungan Eropa.


Menyadari jumlah pasukan Eropa jauh lebih banyak, masalah lain yang dihadapi sultan Sulaiman adalah banyaknya pasukan berkuda Romawi dan Hongaria yg tertutup penuh oleh baju besi yang sulit ditembus panah atau peluru, beliau pun menyusun taktik jitu yang kelak akan mengubah jalannya perang. Ia membagi pasukannya menjadi tiga barisan sepanjang 10 km. Pasukan elit Janissari yang berada di garis depan, mereka ini adalah prajurit pilihan. Kemudian di barisan kedua pasukan berkuda dengan senjata ringan dan pasukan invanteri (pejalan kaki) diantara mereka adalah relawan. Adapun barisan ketiga adalah beliau dan pasukan meriam.
Perang pun berkobar, dentuman-dentuman meriam menggelegar di langit lembah mohacs, ribuan panah meluncur dari busurnya, senapan-senapan silih berganti merontokkan kedua pasukan yang berhadap-hadapan, pekikan kuda membuat makin ngeri keadaan saat itu. Sesuai arahan Sultan Sulaiman, Pasukan Janissari yang ada di garis depan bertahan 1 jam saja, setelah itu harus mundur untuk membuka jalan pasukan kedua. Selama 1 jam pertempuran, pasukan Janissari mampu bertahan, bahkan mampu membunuh 20.000 pasukan Eropa. Pasukan Eropa lalu mengerahkan pasukan utama mereka, melihat pergerakan ini, pasukan Janissari pun mundur ke samping kanan dan kiri sehingga unit tengah pasukan Uttoman terbuka lebar. Melihat hal ini, pasukan Eropa sudah mulai masuk jebakan, mereka menusuk sampai jantung pasukan Ottoman. Merasa sudah unggul, mereka mengejar pasukan kedua Ottoman sampai tidak menyadari formasi perang yang telah menunggu mereka.
Pasukan Pasukan ketiga Ottoman yang telah siap dengan moncong-moncong meriamnya, dan....letusan pertama meriam itu menyadarkan pasukan Eropa akan situasinya, tapi sudah terlambat, pasukan kedua ottoman berbalik mengurungnya. Dentuman-dentuman meriam selanjutnya adalah awal pembantaian pasukan itu. Kuda-kuda perang yang tadinya gagah perkasa dengan lapisan baja pelindung yang sulit ditembus oleh pedang atau peluru-peluru senapan menjadi tidak berarti di hadapan moncong-moncong meriam Ottoman yang tanpa henti menembak ke arah mereka. Sisa-sisa pasukan Eropa kocar kacir, mereka berusaha mundur, tetapi dibelakang mereka hanya ada sungai sehingga banyak juga diantara mereka yang mati  karena berdesak-desakan dan tenggelam. 

Pasukan Eropa ingin menyerah, tetapi entah karena alasan apa. Sultan Sulaiman menolak penyerahan diri mereka, Sultan tidak mau ada tawanan. Maka pasukan Ottoman menyerahkan kembali senjata kepada mereka untuk berperang atau dibunuh, perang ini berakhir dengan terbunuhnya raja Hungaria, Luis II. Menandakan akhir masa kerajaan Hungaria. Kekalahan ini menggetarkan seluruh pelosok Eropa, dan merupakan awal dari perang-perang penaklukan Kekaisaran Ottoman di wilayah Eropa selanjutnya.  

Setelah Kita Dimasukkan ke Liang Kubur…

Penulis: Ummu Salamah Farosyah dan Ummu Rumman Adakah dari kita yang tidak mengetahui bahwa suatu ketika akan datang kematian pada kita. Allah Ta’ala telah berfirman, yang artinya, “Setiap …


    
Penulis: Ummu Salamah Farosyah dan Ummu Rumman
Adakah dari kita yang tidak mengetahui bahwa suatu ketika akan datang kematian pada kita. Allah Ta’ala telah berfirman, yang artinya, “Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian. Dan kami benar-benar akan menguji kalian dengan kejelekan dan kebaikan, dan kepada kamilah kalian akan dikembalikan.” (QS. Al Anbiyaa’: 35). Ya, setiap dari kita insya Allah telah menyadari dan menyakini hal ini. Tetapi kebanyakan orang telah lalai atau bahkan sengaja melalaikan diri mereka sendiri. Satu persatu orang yang kita kasihi telah pergi (meninggal-ed) tapi seakan-akan kematian mereka tidak meninggal faidah bagi kita, kecuali rasa sedih akibat kehilangan mereka.
Saudariku, kematian adalah benar adanya. Begitu pula dengan kehidupan setelah kematian. Kehidupan akhirat, inilah yang seharusnya kita tuju. Kampung akhiratlah tempat kembali kita. Maka persiapkanlah bekal untuk menempuh jauhnya perjalanan. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan hanya permainan dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS. Al An’am: 32)
Ketahuilah wahai hamba Allah! Bahwa kuburan adalah persinggahan pertama menuju akhirat. Orang yang mati, berarti telah mengalami kiamat kecil. Apabila seorang hamba telah dikubur, akan diperlihatkan kepadanya tempat tinggalnya nanti pada pagi hari, yakni antara waktu fajar dan terbit matahari, serta waktu sore, yakni antara waktu dzhuhur hingga maghrib. Apabila ia termasuk penghuni Jannah, akan diperlihatkan tempat tinggalnya di Jannah, dan apabila ia termasuk penghuni Naar, akan diperlihatkan tempat tinggalnya di Naar.
Fitnah Kubur
Fitnah secara bahasa berarti ujian (ikhtibaar), sedangkan secara istilah fitnah kubur adalah pertanyaan yang ditujukan kepada mayit tentang Rabbnya, agamanya dan Nabinya. Hal ini benar berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah. (Lihat Syarah Lum’atul I’tiqod hal 67, syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin)
Diriwayat oleh Bukhari dan Muslim dari hadits Al Barra’ bin ‘Azib bahwasanya ketika seorang mayit telah selesai dikuburkan dan dihadapkan pada alam akhirat, maka akan datang padanya dua malaikat (yaitu malaikat Munkar dan Nakir) yang akan bertanya kepada sang mayit tiga pertanyaan.
Pertanyaan pertama, “Man Robbuka?” … Siapakah Robbmu?
Kedua, “Wa maa diinuka?” … dan apakah agamamu?
Ketiga, “Wa maa hadzaar rujululladzii bu’itsa fiikum?” … dan siapakah orang yang telah diutus di antara kalian ini?
Tiga pertanyaan inilah yang disebut dengan fitnah kubur. Oleh karena itu, tiga pertanyaan pokok ini merupakan masalah besar yang penting dan mendesak untuk diketahui. Wajib bagi setiap manusia untuk mengetahui, meyakini dan mengamalkan hal ini, baik secara lahir maupun bathin. Tidak seorang pun dapat beralasan untuk tidak mengetahui tiga hal tersebut dan tidak mempelajarinya. Bahkan ketiga hal ini harus dipelajari sebelum hal lain. Perhatikanlah hal ini wahai saudariku!
Tiga pertanyaan ini juga awal dari nikmat dan siksaan di alam kubur. Orang-orang yang bisa menjawab adalah orang-orang yang paham, yakin dan mengamalkannya selama hidup sampai akhir hayat dan meninggal dalam keimanan. Seorang mukmin yang bisa menjawab ketiga pertanyaan, maka dia akan memperoleh nikmat kubur. Adapun orang kafir yang tidak bisa menjawabnya, maka dia akan dihadapkan kepada adzab kubur.
Saudariku, Allah Ta’ala telah berfirman dalam Al Qur’an surah Ibrahim 27, yang artinya, “Allah Meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, dan Allah akan Menyesatkan orang-orang yang dzalim dan Memperbuat apa yang Dia kehendaki.”
Menurut Ibnu Katsir yang dimaksud dengan “ucapan yang teguh” adalah seorang mukmin akan teguh di atas keimanan dan terjaga dari syubhat dan ia akan terjaga di atas keimanan. Sedangkan di akhirat, ia akan meninggal dalam keadaan husnul khatimah (dalam keadaan beriman) dan bisa menjawab tiga pertanyaan.
Kita memohon kepada Allah semoga Dia meneguhkan iman kita ketika masih hidup dan ketika akan meninggal dunia. Meneguhkan kita ketika menjawab ketiga pertanyaan serta ketika dibangkitkan kelak di akhirat. Keteguhan iman di dunia dan akhirat, inilah hakikat kebahagiaan yang sesungguhnya.
Bentuk-Bentuk Siksa Kubur
Saudariku, telah disebutkan bahwa seorang yang kafir akan disiksa karena tidak bisa menjawab ketiga pertanyaan. Akan tetapi, bukan berarti seorang mukmin pasti akan terlepas dari adzab kubur. Seorang mukmin bisa saja diadzab disebabkan maksiat yang dilakukannya, kecuali bila Allah mengampuninya.
Syaikh Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad Ath Thahawi berkata dalam kitabnya Aqidah Ath-Thahawiyah, “Kita mengimani adanya adzab kubur bagi orang yang berhak mendapatkannya, kita mengimani juga pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir kepadanya di dalam kubur tentang Rabbnya, agamanya, dan Nabinya berdasar kabar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam serta para sahabat ridhwanallahu ‘alaihim ajma’in. Alam kubur adalah taman-taman jannah atau kubangan Naar.”
Di antara bentuk-bentuk adzab kubur dan kriteria orang yang mengalaminya:
  1. Dipecahkan kepalanya dengan batu, kemudian Allah tumbuhkan lagi kepalanya, dipecahkan lagi demikian seterusnya. Ini adalah siksa bagi orang yang mempelajari Al-Qur’an lalu tidak mengamalkannya dan  juga siksa bagi orang yang meninggalkan sholat wajib.
  2. Dibelah ujung mulut hingga ke belakang kepala, demikian juga hidung dan kedua matanya. Merupakan siksa bagi orang yang pergi dari rumahnya di pagi hari lalu berdusta dan kedustaannya itu mencapai ufuk.
  3. Ada kaum lelaki dan perempuan telanjang berada dalam bangunan menyerupai tungku. Tiba-tiba datanglah api dari bawah mereka. Mereka adalah para pezina lelaki dan perempuan.
  4. Dijejali batu, ketika sedang berenang, mandi di sungai. Ini merupakan siksa bagi orang yang memakan riba.
  5. Kaum yang separuh jasadnya bagus dan separuhnya lagi jelek adalah kaum yang mencampurkan antara amal shalih dengan perbuatan jelek, namun Allah mengampuni perbuatan jelek mereka.
  6. Kaum yang memiliki kuku dari tembaga, yang mereka gunakan untuk mencakari wajah dan dada mereka. Mereka adalah orang-orang yang suka memakan daging orang lain (menggunjing) yakni membicarakan aib mereka.
Adzab dan nikmat kubur adalah benar adanya berdasarkan Al Qur’an, As Sunnah dan ‘ijma ahlu sunnah. Nabi shallahu ‘alaihi wasallam selalu memohon perlindungan kepada Allah dari adzab kubur dan memerintahkan umatnya untuk melakukan hal itu. Dan hal ini hanya diingkari oleh orang-orang Mulhid (atheis). Mereka mengatakan bahwa seandainya kita membongkar kuburan tersebut, maka akan kita dapati keadaannya seperti semula. Namun, dapat kita bantah dengan dua hal:
  1. Dengan dalil Al Qur’an dan Sunnah dan ‘ijma salaf yang menunjukkan tentang adzab kubur.
  2. Sesungguhnya keadaan akhirat tidak bisa disamakan dengan keadaan dunia, maka adzab atau nikmat kubur tidaklah sama dengan apa yang bisa ditangkap dengan indra di dunia. (Diringkas dari Syarah Lum’atul I’tiqod, hal 65-66)
Banyak hadits-hadits mutawatir dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pembuktian adzab dan nikmat kubur bagi mereka yang berhak mengecapnya. Demikian juga pertanyaan Munkar dan Nakir. Semua itu harus diyakini dan diimani keberadaannya. Dan kita tidak boleh mempertanyakan bagaimananya. Sebab akal memang tidak dapat memahami bentuk sesungguhnya. Karena memang tak pernah mereka alami di dunia ini.
Ketahuilah, bahwa siksa kubur adalah siksa di alam Barzakh. Barangsiapa yang mati, dan berhak mendapatkan adzab, ia akan menerima bagiannya. Baik ia dikubur maupun tidak. Meski dimangsa binatang buas, atau terbakar hangus hingga menjadi abu dan bertaburan dibawa angin; atau disalib dan tenggelam di dasar laut. Ruh dan jasadnya tetap akan mendapat siksa, sama seperti orang yang dikubur. (lihat Tahdzib Syarh Ath Thahawiyah, Syaikh Abdul Akhir Hammad al Ghunaimi)
Apakah Adzab Kubur terjadi terus-menerus atau kemudian berhenti ?
Maka jawaban untuk pertanyaan ini ada dua macam:
Pertama, untuk orang kafir yang tidak bisa menjawab ketiga pertanyaan, maka adzab berlangsung terus-menerus. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, yang artinya, “Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat (Dikatakan pada malaikat): Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras.” (QS. Ghafir: 46)
Demikian juga dalam hadits Al Barra’ bin ‘Azib tentang kisah orang kafir, “Kemudian dibukakan baginya pintu Naar sehingga ia dapat melihat tempat tinggalnya di sana hingga hari kiamat.” (HR. Imam Ahmad)
Kedua, untuk para pelaku maksiat yang ringan kemaksiatannya, maka adzab hanya berlangsung beberapa waktu kemudian berhenti. Mereka disiksa sebatas dosanya, kemudian diberi keringanan. (lihat Tahdzib Syarh Ath Thahawiyah, Syaikh Abdul Akhir Hammad al Ghunaimi)
Saudariku, semoga Allah Melindungi kita dari adzab kubur dan memudahkan perjalanan setelahnya. Seringan apapun adzab kubur, tidak ada satupun dari kita yang sanggup menahan penderitaannya. Begitu banyak dosa telah kita kerjakan… maka jangan siakan waktu lagi untuk bertaubat. Janganlah lagi menunda berbuat kebaikan. Amal perbuatan kita, kita sendirilah yang akan mempertanggungjawabkannya dan mendapatkan balasannya. Jika bukan kita sendiri yang beramal shalih demi keselamatan dunia dan akhirat kita, maka siapa lagi ???
Sungguh indah nasihat Yazid Ar Riqasyi rahimahullah yang dikatakannya pada dirinya sendiri, “Celaka engkau wahai Yazid! Siapa yang akan mendirikan shalat untukmu setelah engkau mati? Siapa yang akan berpuasa untukmu setelah engkau mati? Siapa yang akan memintakan maaf untukmu setelah engkau mati?” Lalu ia berkata, “Wahai manusia, mengapa kalian tidak menangis dan meratapi dirimu selama sisa hidupmu. Barangsiapa yang akhirnya adalah mati, kuburannya sebagai rumah tinggalnya, tanah sebagai kasurnya dan ulat-ulat yang menemaninya, serta dalam keadaan demikian ia menunggu hari kiamat yang mengerikan. Wahai, bagaimanakah keadaan seperti ini?” Lalu beliau menangis. Wallahu Ta’ala a’lam.
Maraji’:
  1. Aqidah Ath-Thahawiyah, Syaikh Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad Ath Thahawi (diambil dari Mutuunut Tauhidi wal ‘Aqiidati)
  2. Syarah Al Waajibaat al Mutahattimaat al Ma’rifah ‘alaa kulli Muslim wa Muslimah (edisi terjemah), Syaikh Ibrahim bin asy-Syaikh Shalih bin Ahmad al Khuraishi, Pustaka Imam Syafi’i
  3. Syarah Lum’atul I’tiqod, Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin
  4. Tahdzib Syarh Ath Thahawiyah (jilid 2. edisi Terjemah), Syaikh Abdul Akhir  Hammad al Ghunaimi, Penerbit At Tibyan
***
Artikel www.muslimah.or.id

Disqus Shortname

Comments system